Berhati Emas Ketahuan Dalam Tindakanya
"BERHATI EMAS," KETAHUAN DALAM TINDAKAN MULIANYA.
Oleh Ikanius Waker
I. PENDAHULUAN.
Pepatah: "Apa yang anda katakan, adalah diri anda dan apa yang anda lakukan, adalah "nilai" diri anda.
Suatu "tindakan mulia," sesungguhnya menjelaskan tentang siapa si pelaku, apa nilai-nilai yang dianutnya dan bagaimana taraf kualitas hatinya. Karena dijamin seratus persen (100%) segala "tindakan mulia" pasti bersumber dari "hati emas," kecuali suatu tindakan, yang mengandung unsur lain, seperti mengharapkan imbalan atau dengan istilah kren lainnya: "udang di balik batu."
Bertalian dengan topik di atas, maka berikut ini penulis mengupasnya di bawah dua pertanyaan penting, yakni:. 1.Apa, tindakan mulia itu? 2.Siapakah, yang disebut pemilik hati emas?
II. APA, TINDAKAN MULIA ITU.
Topik artikel ini, tidak muncul secara kebetulan, melainkan dilatarbelakangi oleh satu aksi (tindakan) sangat manusiawi (mulia), yang telah diperagakan melalui tindakan mulianya dalam melayani tamu tak diundangnya (orang gangguan jiwa asli Bandung) oleh sejumlah mahasiswa asal Papua (Puncak Ilaga) kota study Bandung, yang bermarkas Jatinangor - Jawa Barat.
Yang menerima dan melayani "tamu tak diundang" tadi oleh para penghuni Asrama Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Puncak Se-Jawa Bali (IPMAP) Kota Study Bandung, adalah para pria yang bernama Yanes Murib alias Fals, Pindalinus Murib alias Pindah Kamar, Yunianus Murib alias MK (Murib Kula) dan Lingga Murib. Sedangkan nama si tamu, saat ditanya: Siapa nama anda, ia (tamu) sendiri tidak tahu siapa namanya, sehingga terpaksa para pria tadi memberi namanya: Wendanak...Hahaha siooo😆
Isi Kisah.
Sekitar jam 11 siang (4 Maret 2019), tamu tak diundang (Wendanak) bertamu di Asrama IPMAP.
Berikut ini, obrolan singkat, yang kemudian berujung kepada perlakuan secara istimewa terhadap sang tamu (Wendanak) layaknya Raja Arab Saudi Salman, yang baru injak kaki di Indonesia.
Wendanak: Saya sangat haus, tolong berikan saya air putih segelas saja (tanpa basa-basi, kan namanya juga orang gangguan jiwa).
Mahasiswa: Dari mana, tinggal di mana dan siapa nama anda?
Wendanak: Saya tinggal di sana (tidak sebut nama tempat) dan saya tidak tahu nama saya.
Mahasiswa: Awalnya, si tamu sempat mau diusir dari depan Asrama, karena penampilannya sangat mencurigakan, badan penuh aroma tak sedap, sehingga hidung manapun tak kuasa menahan diri saat bertatap muka (face to face) dengan sang tamu (Wendanak), namun setelah tahu ternyata si tamu adalah pengidap penyakit yang bernama "gangguan jiwa," kami kemudian mengajaknya masuk ke dalam rumah dan diberinya air putih, pungkas Pindalinus Murib alias Pindah Kamar.
Saat kami tanya, pernah mandi atau tidak, jawab Wendanak: "Belum pernah mandi." Jadi, bisa dipastikan si Wendanak hampir selama sekian tahun tidak pernah mandi, lanjut Pindah Kamar.
Setelah minum air putih, Wendanak sempat minta pamit secara baik dan sopan, namun kami nenahannya sembari menawarkannya untuk pangkas rambutnya dan membersihkan seluruh tubuhnya (dikasih mandi), Wendanak merespon tawaran tadi secara positif dan menyerahkan diri, kata Yanes Murib alias Fals (Ketua Koordinator Wilayah Jakarta).
Sebelum rambutnya dipangkas, Wendanak harus mandi terlebih dahulu. Karena, kerasnya rambut si Wendanak, alat gunting (baber merk) manapun terancam rusak, maka perlu habiskan satu sabun mandi (nuvo). Namun masih juga membutuhkan empat papan sampo merk "sunsilk Black shine 70ml," habis lenyap pula untuk satu kepala Wendanak. Setelah dimandikan, Pindalinus Murib alias Pindah Kamar memberikan kepada si Wendanak pakaian (satu baju leher bulat bertuliskan "Jerusalem," satu jaket merk "eiger" dan satu potong celana linen panjang), lanjut Fals Murib.
Sementara itu, kedua pria yang bernama Yunianus Murib alias MK dan Lingga Murib mengeluarkan sejumlah biaya secara spontan untuk menyajikan makan siang, yang di dalamnya merayakan acara penyambutan kedatangan tamu tak diundang tadi (Wendanak). Setelah makan siang bersama, kami antar sang tamu pulang, lanjut Fals Murib.
III. SIAPAKAH, YANG DISEBUT PEMILIK HATI EMAS.
"Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Galatia 5:22-23a).
Jikalau, penulis disuruh memilih dari sejumlah karat emas (18 karat, 20 karat, 22 karat, dan 24 karat), lebih memilih yang terakhir (24). Karena kadar kemurnian dan kualitasnya di atas rata-rata. Emas jenis ini, dipastikan tidak mengandung campuran logam apapun, sehingga warnanya alami (tidak mudah pudar) dan bermutu tinggi.
Demikian pula hati manusia. Tuhan ingin kita memiliki hati yang murni, suci, dan kudus sebagai umat pilihan-Nya yang berharga, sebab Allah itu Kudus Adanya (Yesaya 43:3).
Hanya dengan hati yang suci, kita bisa dapat melihat Allah (Mat. 5:8), adalah "standar Allah yang mutlak," yang olehnya kita diberi karunia untuk menyaksikan penggenapan rencana-Nya, manifestasi-Nya, kuasa-Nya, serta kemuliaan-Nya.
Dengan demikian, setiap orang yang hatinya telah memenuhi "standar Allah" tadi, bisa dipastikan ia adalah "manusia langka (berhati emas)."
Setiap orang, yang memiliki "hati emas," ditandai hidupnya dikendalikan dan ditopang oleh nilai buah-buah Roh (Galatia 5:22-23), yang kemudian diperagakan melalui tindakan atau perilaku sehari-hari secara nyata. Misalnya, seperti para pria (mahasiswa IPMAP) tadi: menolong orang lain (sekalipun tak dikenal), selalu bersukacita, tidak mudah khawatir, dipenuhi kedamaian, penuh sabar, tidak mudah marah, murah hati, suka memberi, serta tidak mementingkan diri sendri, baik, setia, lemah lembut, dan bisa menguasai dirinya, sehingga tidak menuruti keinginan daging.
IV. PENUTUP (KESIMPULAN).
Dalam cerita yang panjang lebar tadi, penulis punya jari capek dan sakit untuk ketik kesimpulan, sehingga penulis berharap para pembaca silahkan simpulkan sendiri, agar sekaligus melengkapi tulisan penulis.
Penulis Kisah Oleh : Ikonius Waker
Editor & Publishar : Yore Gwijangge
Oleh Ikanius Waker
I. PENDAHULUAN.
Pepatah: "Apa yang anda katakan, adalah diri anda dan apa yang anda lakukan, adalah "nilai" diri anda.
Suatu "tindakan mulia," sesungguhnya menjelaskan tentang siapa si pelaku, apa nilai-nilai yang dianutnya dan bagaimana taraf kualitas hatinya. Karena dijamin seratus persen (100%) segala "tindakan mulia" pasti bersumber dari "hati emas," kecuali suatu tindakan, yang mengandung unsur lain, seperti mengharapkan imbalan atau dengan istilah kren lainnya: "udang di balik batu."
Bertalian dengan topik di atas, maka berikut ini penulis mengupasnya di bawah dua pertanyaan penting, yakni:. 1.Apa, tindakan mulia itu? 2.Siapakah, yang disebut pemilik hati emas?
II. APA, TINDAKAN MULIA ITU.
Topik artikel ini, tidak muncul secara kebetulan, melainkan dilatarbelakangi oleh satu aksi (tindakan) sangat manusiawi (mulia), yang telah diperagakan melalui tindakan mulianya dalam melayani tamu tak diundangnya (orang gangguan jiwa asli Bandung) oleh sejumlah mahasiswa asal Papua (Puncak Ilaga) kota study Bandung, yang bermarkas Jatinangor - Jawa Barat.
Yang menerima dan melayani "tamu tak diundang" tadi oleh para penghuni Asrama Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Puncak Se-Jawa Bali (IPMAP) Kota Study Bandung, adalah para pria yang bernama Yanes Murib alias Fals, Pindalinus Murib alias Pindah Kamar, Yunianus Murib alias MK (Murib Kula) dan Lingga Murib. Sedangkan nama si tamu, saat ditanya: Siapa nama anda, ia (tamu) sendiri tidak tahu siapa namanya, sehingga terpaksa para pria tadi memberi namanya: Wendanak...Hahaha siooo😆
Isi Kisah.
Sekitar jam 11 siang (4 Maret 2019), tamu tak diundang (Wendanak) bertamu di Asrama IPMAP.
Berikut ini, obrolan singkat, yang kemudian berujung kepada perlakuan secara istimewa terhadap sang tamu (Wendanak) layaknya Raja Arab Saudi Salman, yang baru injak kaki di Indonesia.
Wendanak: Saya sangat haus, tolong berikan saya air putih segelas saja (tanpa basa-basi, kan namanya juga orang gangguan jiwa).
Mahasiswa: Dari mana, tinggal di mana dan siapa nama anda?
Wendanak: Saya tinggal di sana (tidak sebut nama tempat) dan saya tidak tahu nama saya.
Mahasiswa: Awalnya, si tamu sempat mau diusir dari depan Asrama, karena penampilannya sangat mencurigakan, badan penuh aroma tak sedap, sehingga hidung manapun tak kuasa menahan diri saat bertatap muka (face to face) dengan sang tamu (Wendanak), namun setelah tahu ternyata si tamu adalah pengidap penyakit yang bernama "gangguan jiwa," kami kemudian mengajaknya masuk ke dalam rumah dan diberinya air putih, pungkas Pindalinus Murib alias Pindah Kamar.
Saat kami tanya, pernah mandi atau tidak, jawab Wendanak: "Belum pernah mandi." Jadi, bisa dipastikan si Wendanak hampir selama sekian tahun tidak pernah mandi, lanjut Pindah Kamar.
Setelah minum air putih, Wendanak sempat minta pamit secara baik dan sopan, namun kami nenahannya sembari menawarkannya untuk pangkas rambutnya dan membersihkan seluruh tubuhnya (dikasih mandi), Wendanak merespon tawaran tadi secara positif dan menyerahkan diri, kata Yanes Murib alias Fals (Ketua Koordinator Wilayah Jakarta).
Sebelum rambutnya dipangkas, Wendanak harus mandi terlebih dahulu. Karena, kerasnya rambut si Wendanak, alat gunting (baber merk) manapun terancam rusak, maka perlu habiskan satu sabun mandi (nuvo). Namun masih juga membutuhkan empat papan sampo merk "sunsilk Black shine 70ml," habis lenyap pula untuk satu kepala Wendanak. Setelah dimandikan, Pindalinus Murib alias Pindah Kamar memberikan kepada si Wendanak pakaian (satu baju leher bulat bertuliskan "Jerusalem," satu jaket merk "eiger" dan satu potong celana linen panjang), lanjut Fals Murib.
Sementara itu, kedua pria yang bernama Yunianus Murib alias MK dan Lingga Murib mengeluarkan sejumlah biaya secara spontan untuk menyajikan makan siang, yang di dalamnya merayakan acara penyambutan kedatangan tamu tak diundang tadi (Wendanak). Setelah makan siang bersama, kami antar sang tamu pulang, lanjut Fals Murib.
![]() |
| Wendanak Sebelum dikasih Potong Rambut dan di Mandikan |
III. SIAPAKAH, YANG DISEBUT PEMILIK HATI EMAS.
"Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Galatia 5:22-23a).
Jikalau, penulis disuruh memilih dari sejumlah karat emas (18 karat, 20 karat, 22 karat, dan 24 karat), lebih memilih yang terakhir (24). Karena kadar kemurnian dan kualitasnya di atas rata-rata. Emas jenis ini, dipastikan tidak mengandung campuran logam apapun, sehingga warnanya alami (tidak mudah pudar) dan bermutu tinggi.
Demikian pula hati manusia. Tuhan ingin kita memiliki hati yang murni, suci, dan kudus sebagai umat pilihan-Nya yang berharga, sebab Allah itu Kudus Adanya (Yesaya 43:3).
Hanya dengan hati yang suci, kita bisa dapat melihat Allah (Mat. 5:8), adalah "standar Allah yang mutlak," yang olehnya kita diberi karunia untuk menyaksikan penggenapan rencana-Nya, manifestasi-Nya, kuasa-Nya, serta kemuliaan-Nya.
Dengan demikian, setiap orang yang hatinya telah memenuhi "standar Allah" tadi, bisa dipastikan ia adalah "manusia langka (berhati emas)."
Setiap orang, yang memiliki "hati emas," ditandai hidupnya dikendalikan dan ditopang oleh nilai buah-buah Roh (Galatia 5:22-23), yang kemudian diperagakan melalui tindakan atau perilaku sehari-hari secara nyata. Misalnya, seperti para pria (mahasiswa IPMAP) tadi: menolong orang lain (sekalipun tak dikenal), selalu bersukacita, tidak mudah khawatir, dipenuhi kedamaian, penuh sabar, tidak mudah marah, murah hati, suka memberi, serta tidak mementingkan diri sendri, baik, setia, lemah lembut, dan bisa menguasai dirinya, sehingga tidak menuruti keinginan daging.
![]() |
| Wendanak Sedang di Mandikan |
Dalam cerita yang panjang lebar tadi, penulis punya jari capek dan sakit untuk ketik kesimpulan, sehingga penulis berharap para pembaca silahkan simpulkan sendiri, agar sekaligus melengkapi tulisan penulis.
![]() |
| Wendanak Sesudah di Mandikan |
Penulis Kisah Oleh : Ikonius Waker
Editor & Publishar : Yore Gwijangge
Jatinegara 7 Maret 2019
WakerNen



Komentar
Posting Komentar